Surat Nuklir untuk Presiden dari Sang Pemimpi

Wednesday, November 28, 2012

Surat Nuklir untuk Presiden dari Sang Pemimpi:

Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Assalamualaikum.

Pak Presiden, nama saya Rendy Ahmad, anak kampong yang lahir 18 tahun lalu di Manggar, Pulau Belitung. Tentu Pak Presiden sudah nonton film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Cik Andrea Hirata (novel), Mas Riri Riza, Mbak Mira Lesmana dan Mas Putut Widjanarko, Alhamdulillah, saya termasuk salah satu anak kampong yang beruntung terpilih memerankan tokoh Arai remaja di film Sang Pemimpi.

Pak Presiden, hari ini saya mencoba menulis surat terbuka kepada Bapak, karena beberapa hari terakhir ini saya khawatir ketika nonton dan baca berita mengerikan tentang meledaknya reaktor nuklir Fukushima di Jepang akibat gempa dan tsunami, dan kemudian ada rencana pemerintah yang akan bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di kampong tetangga saya, kampong Permis di Bangka Selatan dan kampong Air Putih di Bangka Barat. Terus terang saya belum pernah ke Pulau Bangka, walau kami satu propinsi. Bagi saya, jarak antara pulau Bangka dan Belitung itu lumayan jauh dan mahal, 6 jam naik kapal dan ongkos sekitar Rp. 165 ribu. Tapi walau kami berpisah jarak, berbeda sedikit bahasa, tetaplah kami ini anak melayu Bangka Belitong.

Pak Presiden, saya bukan aktivis apalagi ilmuan. Tahun lalu saya baru lulus SMA di Manggar, dan sekarang merantau di Depok/Jakarta untuk jadi penyanyi dan aktor profesional. Kalaupun nanti kuliah, sepertinya saya akan mengambil jurusan Bahasa Inggris, bukan teknologi nuklir. Tapi saya membaca sedikit tentang akibat-akibat mengerikan yang ditimbulkan dari radiasi nuklir. Kerusakan dan meledaknya reaktor Fukushima Jepang telah menyebabkan puluhan ribu orang diungsikan dari daerahnya karena khawatir akan terkena radiasi nuklir. Masyarakat dunia kini sangat serius ikut terlibat menangani masalah ini karena radiasi bisa menyebar ke negara-negara lain.

Pak Presiden, peristiwa meledaknya reaktor nuklir di Chernobyl, Ukraina pada tahun 1986 menyebabkan ratusan ribu orang, mulai balita sampai orang tua, mengidap berbagai penyakit mengerikan, seperti kanker tiroid, cacat mental bawaan, gangguan fisik berat, leukemia, tumor otak, down syndrom, kelebihan cairan di kepala, kanker tenggorokan, kanker rahim, kanker paru-paru metastasis, gangguan kepala kronis, bronchitis, pendarahan hidung, rahang menciut, kelainan kekebalan, masalah ginjal, penurunan kekebalan tubuh, thrombosi, gastrilis, serangan jantung, kemandulan. Sebagian besar warga Chernobyl dan sekitarnya meninggal di usia muda, tua, juga meninggal bunuh diri. Berbagai informasi mengerikan akibat radioaktif nuklir ini saya tulis ulang dari berbagai sumber di internet.

Pak Presiden, menurut saya rencana pembangunan PLTN di Bangka Belitung ini adalah rencana yang salah besar. Terlalu besar resiko yang akan ditanggung oleh masyarakat di sekitar PLTN, di Bangka Belitung, di Indonesia, di Asia Tenggara, dan juga masyarakat di seluruh dunia. Resiko ini mungkin belum akan terjadi dalam waktu cepat, dan mungkin untuk sementara listrik di Bangka Belitung dan wilayah lainnya akan menjadi lebih baik karena PLTN, tapi yang tidak diinginkan saya, keluarga saya, warga kampong saya, seluruh rakyat Indonesia dan dunia adalah akan terancam dampak negatif dari bahan radioaktif dari nuklir tersebut di masa mendatang jika terjadi kelalaian manusia dan berbagai kesalahan teknis lainnya. Belum lagi dampak yang diakibatkan kepada laut, sungai, ekosistem, flora fauna, dan lain sebagainya. Bukankah sudah banyak negara yang membatalkan rencana pembangunan PLTN-nya akibat bencana nuklir yang saat ini terjadi di Jepang?

Pak Presiden, memang selama tinggal di Bangka Belitung, belum pernah saya mengalami gempa, tsunami, gunung meletus,dan bencana lainnya yang menjadi alasan mengapa PLTN akan berlokasi di kampong saya. Tapi sepertinya tidak ada reaktor nuklir yang benar-benar aman karena tingkat operasional dan keamanannya yang rumit, jika dilihat penyebab meledaknya reaktor nuklir di beberapa negara lain, tidak hanya Ukraina/Chernobyl dan Jepang. Bukankah sudah terlalu banyak bencana kemanusiaan yang terjadi di negara kita yang disebabkan oleh kelalaian manusia? karena kesalahan-kesalahan teknis yang terus terulang? Kemungkinan inilah yang membuat saya dan warga kampong saya, juga banyak kelompok masyarakat lainnya di Indonesia maupun dunia yang juga menolak pembangunan PLTN ini. Menurut saya, negara kita sebenarnya dianugerahi kekayaan luar biasa, termasuk dalam hal sumber energi alternatif seperti tenaga matahari, angin, air, atau biogas. Mengembangkan teknologi alternatif ini lebih baik daripada kita semua menanggung berbagai penyakit menyeramkan akibat tercemar radioaktif nuklir.

Pak Presiden, saya adalah seorang pemimpi jauh sebelum saya dipilih untuk main di film Sang Pemimpi. Di masa ketika saya asyik bernyanyi dan main gitar, saya pernah bermimpi tampil di panggung yang sama dengan Ipang, salah satu penyanyi favorit saya. Dan mimpi itu menjadi kenyataan ketika saya dan Ipang terlibat dalam sebuah konser Sang Pemimpi di RCTI. Bahkan saya mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang saya impikan, yaitu saya bekerja dengan penyanyi lain seperti Mas Ariel, dan bahkan saya berkolaborasi dengan Mas Nugie dalam menciptakan sebuah lagu, Zakia Nurmala. Dan tentu saja saat ini saya bermimpi untuk Indonesia yang lestari, Indonesia yang ramah lingkungan, adil dan sejahtera. Indonesia yang bebas dari segala bencana akibat ulah manusia. Saya yakin mimpi ini akan terwujud suatu saat, karena saya tidak sendirian. Ada jutaan anak muda lain di Indonesia, ada jutaan warga Negara Indonesia yang memimpikan hal yang sama. Apalagi jika ditambah Pak Presiden bermimpi yang sama. Kata Cik Andrea atau Arai di novel dan film Sang Pemimpi, “bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.”

Pak Presiden, sekarang saya dan kawan-kawan di SIMPONI (Sindikat Musik Penghuni Bumi) senang berkunjung ke sekolah-sekolah, juga kampus dan pesantren untuk bicarakan soal pemanasan global, praktek keranjang kompos Takakura dan tentunya sambil bernyanyi bersama (ROCK N’ GREEN TOUR, HIJAUKUSTIK). Kami semua, anak-anak muda, warga negara, melalui surat terbuka ini meminta kepada Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membatalkan rencana pembangunan PLTN ini, tidak hanya di Bangka Belitung, juga di Semenanjung Muria Jepara, Jawa Timur, atau dimanapun tempatnya.

Pak Presiden, sekian dulu surat saya. Sudah waktunya saya kembali berlatih nyanyi dan gitar. Besok juga ada kesempatan casting film. Semoga Pak Presiden bersedia luangkan waktu untuk membaca surat sederhana dari seorang pemimpi seperti saya, yang saya kirimkan lewat jaringan sosial murah meriah, internet (ciptaan yang juga berawal dari mimpi).

Semoga sehat selalu untuk kita semua. Salam.

Dari rumah kontrakan di Depok, pada tanggal 30 Maret 2011, pada Hari Film Nasional,

Rendy Ahmad

Twit: @simponii FB: Rendy Ahmad Syaifullah email: simponi10@gmail.com
( 30/3/2011)

 

0 comments:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More